Mendadak Rinjani #1
“Perjalanan ke Rinjani itu indah, tapi susah buat dijalanin”
Berawal dari message wassap yang muncul pada notif smartphone saya tertanggal 2 November 2013 ‘Surya… Do you know me so well’, dalam hati
berpikir ‘tumben nih Morgan chat gue duluan, pengen balik ke Smash?Nehi! Hah….’
tapi setelah men-zoom profil kontaknya yang ternyata someone I know but not too well. Hahaha –temen jaman muda waktu
kuliah, sebut saja Mawar tapi Huda juga boleh. Terserah! Bebas!-, yang intinya
Huda besok pagi bakal berkunjung ke Lombok dan mencoba menjamah Gunung Rinjani.
Sebentar….., What? Rinjani? Dan saya
ga dikabari jauh-jauh hari? Ini salah
satu destinasi wajib dikunjungi dalam list saya. Tanpa menyinkronkan otak kiri
dan kanan terlebih dahulu, saya mengajukan diri untuk ikut joint ke perjalanan Huda cs.
Bermodalkan
persiapan setengah matang, ijin dari atasan yang telah diamini secara kilat,
peralatan mendaki ala kadarnya, maka prolog yang garing
inilah, yang akhirnya membawa saya ke
cerita empat hari tiga malam yang ga bakal saya lupain seumur hidup.
Rinjani, finally I would be coming!
Esok pun tiba,
masih dalam proses pengumpulan keyakinan, kalau sebentar lagi perjalanan
panjang bakal digelar. Batin mulai melemahkan mental saya “Masih bisa buat dibatalin sur, nasinya
belum encer banget buat jadi bubur, ayo magikom-nya masih sempet buat dimatiin,
medannya Rinjani bakal lebih sulit dari Semeru, dan ga semudah Lawu lho, 3726
mdpl sur! Bukan 3726 milimeter sur! Nyebut sur! Istighfar!” tapi sekali lagi,
rasa penasaran itu mengalahkan segalanya. Setelah mempertimbangkan masalah kisah
cinta, cuaca, stamina dan karena saya masih calon pegawai yang menjunjung
tinggi prinsip ekonomi, maka masalah share cost itu merupakan masalah pelik
dan basic
needs yang perlu diperhitungkan, otomatis karena kami tanpa guide atau porter pasti bakal lebih
hemat dibandingkan dengan penawaran paket wisata ke Rinjani yang banyak
berjejal di internet, yang beberapa bulan terakhir ini saya sekedar iseng mencaritahunya, and I’ve never found it under one million.
Iyeee…. Lu udah dapet capek dan mesti harus habis duit jutaan? No! that’s not sooo me haha…
Oke, sekarang
niat sudah mulai mantap hingga 0,0015%, apapun yang bakal terjadi, harus
dijalani! Bakal percuma Diapet dan Salonpas yang uda kebeli, kalau ini
dibatalin, mau dioplos sama tolak angin pun juga ga bakal bikin saya jadi orang
pintar dan bisa go internasional kayak
Agnes Monica. Hah…
Dan Huda pun
bersama salah satu teman sepergunungan-nya,
telah sampai di tempat meeting point
yang telah kita rencanakan—KPP Pratama Mataram Timur. Sembari menunggu tiga
teman lainnya yang berasal dari Pulau seberang, saya berkenalan dengan member baru di boyband kita, maap….
Maksudnya personil rombongan Rinjani kita. HA? KITA? Doi bernama “Baladil Amin” yang mengingatkan pada
potongan ayat pada surat pendek hafalan saya, YUP! Surat At-Tin, yang kurang lebih artinya “Kota Mekah yang aman” . nice name, membuat saya sedikit
melupakan kalo sebentar lagi kami bakal mendaki ke Gunung Rinjani, bukan sedang
mempersiapkan jihad fisabilillah mengamankan
kota Mekah.
Satu jam
kemudian datanglah tiga personil yang wajahnya sangat familiar tapi nama tak
dikenal, style khas mahasiswa salah
satu sekolah tinggi ternama di Indonesia. Demi keamanan dan menghormati privasi
para personil maka nama dan tempat asal akan saya samarkan, tapi untuk
mempermudah imajnasi pembaca dan jalannya cerita, maka penulis akan mengilustrasikan
masing-masing tokoh. Hendy Phernando . Nampak jelas kan dari namanya, pemuda
ini berasal dari kota mana? Yup ! asal Klaten, hah….. Hendy adalah anak Medan
berdarah Sunda, yang kedua adalah Ilham, pemuda Nganjuk yang sekarang mencoba
mengais rejeki hingga Balikpapan. Dan terakhir, Zaky. Anak gaul metropolitan
Jakarta, yang ternyata memilki kesamaan kota asal dengan saya, memang sangat
nampak jelas dari perangainya yang sopan santun, sangat
mencerminkan atitude pemuda asal kota
berseri. Solo.
Dan dengan begitu, maka lengkap sudah rombongan
kami yang akan mencoba menantang asa menaklukan gunung vulkanik tertinggi kedua
di Indonesia, Rinjani! Tak begitu lama dari tempat meeting point, kami bergegas dengan menggunakan rent car, menuju desa Sembalun, dengan
sebelumnya berhenti di Pasar Aikmel untuk sekedar melengkapi logistik kelompok
yang masih kurang. Kendati perlengkapan pribadi mendaki saya saja belum lengkap, maka saya memisahkan diri dengan
rombongan , membeli jaket tebal untuk sekedar melapisi kulit menghadang hawa
dingin ketika mendaki nanti. Suhu udara rata-rata di Rinjani sekitar 20° C dan
terendah bisa mencapai 12°C dengan catatan cuaca normal, tidak hujan. Sebenarnya
suhu udarnya tidak terlalu dingin di bandingkan dengan kota kelahiran saya, Adelaide.
PREET
Logistik kelompok siap, perlengkapan
pribadi saya sudah agak cukup komplit, kami kemudian melanjutkan
perjalanan ke desa Sembalun yang tidak memakan waktu lama, sekitar kurang dari
30 menit dari pasar Aikmel, pintu masuk
desa sembalun dan papan tertulis Pos Informasi Rinjani menyapa kami dari
kejauhan. Segera, kami melengkapi administrasi. Menyinggahi Taman Nasional
Gunung Rinjani, masing-masing kepala akan dikenakan tarif Rp 10.000 untuk
pendaki domestik dan Rp 150.000 untuk pendaki berkewarganegaraan asing. Dengan
pikiran polos kami setelah melihat mobil pick
up yang masih dapat keluar menuju lawang sembalun dan setelah mengetahui rute sembalun menuju
pos satu yang berjarak tempuh 2-3 jam perjalanan, kami semua masih mengharapkan
Mukjizat dari yang Maha Kuasa, mobil sewaan kami dapat mengantarakan kami
hingga pos satu, minimal. Tetapi ternyata, jalan sempit dan lubang yang terjal memaksa
kami turun di tengah perjalanan menuju Pos satu.
Barang- barang dan Carrier pun satu persatu diturunkan dari mobil kami, dan
dari sinilah cerita indah bergumul dengan keeksotisan Rinjani di mulai …………
| Starting Point Pendakian Rute Sembalun |
![]() |
| The story was begining. Rinjani! |
BERSAMBUNG…..
******



Tidak ada komentar:
Posting Komentar