Rabu, 13 November 2013

Mendadak Rinjani #1

Mendadak Rinjani #1

Perjalanan  ke Rinjani itu indah,  tapi susah buat dijalanin


Berawal dari message wassap  yang muncul pada notif smartphone saya tertanggal 2 November 2013 ‘Surya… Do you know me so well’, dalam hati berpikir ‘tumben nih Morgan chat gue duluan, pengen balik ke Smash?Nehi! Hah….’ tapi  setelah men-zoom profil kontaknya yang ternyata someone I know but not too well. Hahaha –temen jaman muda waktu kuliah, sebut saja Mawar tapi Huda juga boleh. Terserah! Bebas!-, yang intinya Huda besok pagi bakal berkunjung ke Lombok dan mencoba menjamah Gunung Rinjani. Sebentar….., What? Rinjani? Dan saya ga dikabari jauh-jauh hari? Ini  salah satu destinasi  wajib dikunjungi dalam list saya. Tanpa menyinkronkan otak kiri dan kanan terlebih dahulu, saya mengajukan diri untuk ikut joint  ke perjalanan Huda cs.
Bermodalkan persiapan setengah matang, ijin dari atasan yang telah diamini secara kilat, peralatan mendaki ala kadarnya, maka prolog yang garing inilah, yang akhirnya membawa  saya ke cerita empat hari tiga malam yang ga bakal saya lupain seumur hidup. Rinjani, finally  I would be coming!
Esok pun tiba, masih dalam proses pengumpulan keyakinan, kalau sebentar lagi perjalanan panjang bakal digelar. Batin mulai melemahkan mental  saya “Masih bisa buat dibatalin sur, nasinya belum encer banget buat jadi bubur, ayo magikom-nya masih sempet buat dimatiin, medannya Rinjani bakal lebih sulit dari Semeru, dan ga semudah Lawu lho, 3726 mdpl sur! Bukan 3726 milimeter sur! Nyebut sur! Istighfar!” tapi sekali lagi, rasa penasaran itu mengalahkan segalanya. Setelah mempertimbangkan masalah kisah cinta, cuaca, stamina dan karena saya masih calon pegawai yang menjunjung tinggi prinsip ekonomi, maka  masalah share cost itu merupakan masalah pelik dan  basic needs yang perlu diperhitungkan, otomatis karena kami tanpa guide atau porter pasti bakal lebih hemat dibandingkan dengan penawaran paket wisata ke Rinjani yang banyak berjejal di internet, yang beberapa bulan terakhir  ini saya sekedar iseng mencaritahunya, and I’ve never found it under one million. Iyeee…. Lu udah dapet capek dan mesti harus habis duit jutaan? No! that’s not  sooo me haha…
Oke, sekarang niat sudah mulai mantap hingga 0,0015%, apapun yang bakal terjadi, harus dijalani! Bakal percuma Diapet dan Salonpas yang uda kebeli, kalau ini dibatalin, mau dioplos sama tolak angin pun juga ga bakal bikin saya jadi orang pintar dan bisa go internasional kayak Agnes Monica. Hah…
Dan Huda pun bersama  salah satu teman sepergunungan-nya, telah sampai di tempat  meeting point yang telah kita rencanakan—KPP Pratama Mataram Timur. Sembari menunggu tiga teman lainnya yang berasal dari Pulau seberang, saya berkenalan  dengan member baru di boyband kita, maap…. Maksudnya personil rombongan Rinjani kita. HA? KITA?  Doi bernama “Baladil Amin” yang mengingatkan pada potongan ayat pada surat pendek hafalan saya, YUP! Surat At-Tin, yang kurang lebih artinya “Kota Mekah yang aman” . nice name, membuat saya sedikit melupakan kalo sebentar lagi kami bakal mendaki ke Gunung Rinjani, bukan sedang mempersiapkan jihad fisabilillah mengamankan  kota Mekah.
Satu jam kemudian datanglah tiga personil yang wajahnya sangat familiar tapi nama tak dikenal, style khas mahasiswa salah satu sekolah tinggi ternama di Indonesia. Demi keamanan dan menghormati privasi para personil maka nama dan tempat asal akan saya samarkan, tapi untuk mempermudah imajnasi pembaca dan jalannya cerita, maka penulis akan mengilustrasikan masing-masing tokoh. Hendy Phernando . Nampak jelas kan dari namanya, pemuda ini berasal dari kota mana? Yup ! asal Klaten, hah….. Hendy adalah anak Medan berdarah Sunda, yang kedua adalah Ilham, pemuda Nganjuk yang sekarang mencoba mengais rejeki hingga Balikpapan. Dan terakhir, Zaky. Anak gaul metropolitan Jakarta, yang ternyata memilki kesamaan kota asal dengan saya, memang sangat nampak jelas dari perangainya yang sopan santun, sangat mencerminkan atitude pemuda asal kota berseri. Solo.
 Dan dengan begitu, maka lengkap sudah rombongan kami yang akan  mencoba menantang asa menaklukan gunung vulkanik tertinggi kedua di Indonesia, Rinjani! Tak begitu lama dari tempat meeting point, kami bergegas dengan menggunakan rent car, menuju desa Sembalun, dengan sebelumnya berhenti di Pasar Aikmel untuk sekedar melengkapi logistik kelompok yang masih kurang. Kendati perlengkapan pribadi mendaki saya saja belum  lengkap, maka saya memisahkan diri dengan rombongan , membeli jaket tebal untuk sekedar melapisi kulit menghadang hawa dingin ketika mendaki nanti. Suhu udara rata-rata di Rinjani sekitar 20° C dan terendah bisa mencapai 12°C dengan catatan cuaca normal, tidak hujan. Sebenarnya suhu udarnya tidak terlalu dingin di bandingkan dengan kota kelahiran saya, Adelaide. PREET
Logistik kelompok siap, perlengkapan pribadi saya sudah agak cukup komplit, kami kemudian melanjutkan perjalanan ke desa Sembalun yang tidak memakan waktu lama, sekitar kurang dari 30 menit dari pasar Aikmel,  pintu masuk desa sembalun dan papan tertulis Pos Informasi Rinjani menyapa kami dari kejauhan. Segera, kami melengkapi administrasi. Menyinggahi Taman Nasional Gunung Rinjani, masing-masing kepala akan dikenakan tarif Rp 10.000 untuk pendaki domestik dan Rp 150.000 untuk pendaki berkewarganegaraan asing. Dengan pikiran polos kami setelah melihat mobil pick up yang masih dapat keluar menuju lawang sembalun  dan setelah mengetahui rute sembalun menuju pos satu yang berjarak tempuh 2-3 jam perjalanan, kami semua masih mengharapkan Mukjizat dari yang Maha Kuasa, mobil sewaan kami dapat mengantarakan kami hingga pos satu, minimal. Tetapi ternyata, jalan sempit dan lubang yang terjal memaksa kami turun di tengah perjalanan menuju Pos satu.
Barang- barang dan Carrier pun  satu persatu diturunkan dari mobil kami, dan dari sinilah cerita indah bergumul dengan keeksotisan Rinjani di mulai …………
Starting Point Pendakian Rute Sembalun


The story was begining. Rinjani!

BERSAMBUNG…..
******

Tidak ada komentar:

Posting Komentar